Jawaban atau balasan?

Sudah lama diakui memang ini akibat khilafku. Ulahku yang bodoh. Namun karena aku ini merasa aku bersalah, aku mencoba meminta maaf dan meminta kesempatan satu kali lagi untuk bisa mendadani semua keburukanku di masalalu dan now i did it.
Apa to aku itu? Ha? Aku diam. Kamu diam  semua diam. Aku memang tak bisa menyalahkanmu 1000% dalam hal ini. Anggap saja aku yang salah. Atau benar benar salah. Sebenarnya aku tahu siapa posisiku sekarang ini. Namun hebatnya, aku tidak mempermasalahkan statusku atasmu. Siapa aku? Kamu anggap aku apa? Bagaimana seharusnya menyikapiku?. Aku tidak pernah sekalipun meminta kau untuk mengertikan aku akan hal ini. Tapi tolonglah. Untuk saat ini mungkin aku akan menyerah. Bendera putih. Memang bukan porsiku membahas hubunganmu dengan orang lain. Tapi sekali ini saja, tolong mengerti. Di sini masih ada aku yang entah buatmu itu siapa aku tak tahu. Setauku ya aku punya rasa ke kamu dan kamupun sama. Tapu feelingku mengatakab akuemang harus benar benar mundur. Merelakan kamu berjuang dengan wanita itu. Itu terlihat lebih baik kak. Daripada disini aku harus berjuang sendirian. Demi mengembalikan bahagia kita dulu. Mungkin ini memang balasan yang tepat, bukan jawaban atas kesalahan yang aku lakukan..
Toh wanita itu terlihat lebih memperjuangkanmu daripada aku. Yaa aku disini cukup sadar diri dan diam. Bukan apa apa. Tapi ini sakit kak. Benar benar sakit.
Biarkan aku rela meneteskab air dari mataku ini untuk semua jerih payah dan perjuanganku mengembalikan semua ini SENDIRI. Karena aku bukan wanita rapuh.
Semoga perjuangan wanita itu berhasil sampai ke puncak. Aku ikhlas jikalau dia lebih baik dalam mencintaimu.
-Ros-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

damn aja

wtf .... mau percya atoo kagaaa

Entahlah